Persib, Menunggu Keajaiban

PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) sudah melakukan langkah besar yang sangat revolusioner pada pertengahan tahun 2009 ini. Berkat langkah raksasanya, perusahaan pengelola klub sepak bola bernama Persib ini sudah mendapatkan keajaiban; tanpa sokongan APBD, PT PBB --setidaknya hingga pengujung tahun-- ternyata bisa menghidupi Persib.
Nah, keajaiban itulah yang tengah dinantikan tim Persib memasuki tahun 2010 ini. Hingga menyelesaikan laga terakhirnya di tahun 2009, Eka Ramdani dan kawan-kawan hanya berada di peringkat ke-12 klasemen sementara Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010. Prestasi kurang menggembirakan ini lantaran masih tertatih-tatihnya pasukan Jaya Hartono mengarungi kompetisi. Dari 11 laga awal, Persib baru mengoleksi 14 poin, hasil 4 kali menang, 2 seri, dan 5 kalah.
Hasil yang didapatkan Persib, yang mengakhiri musim lalu di peringkat ketiga ini, membuat langkah tim kebanggaan bobotoh untuk memenuhi target juara ini semakin berat. Itu diakui Jaya dan Manajer Persib, H. Umuh Muchtar. Karena itu, Persib pun merevisi target juaranya.
Kendati sudah merevisi targetnya, Persib belum mengibarkan bendera putih. Seperti dituturkan Umuh, dalam kondisi sesulit dan seberat apa pun, tahta juara harus terus diperjuangkan. "Kita tidak mau menyerah begitu saja. Untuk itu, kita akan melakukan perubahan komposisi tim pada putaran kedua nanti, biar Persib lebih agresif," kata Umuh.
Perubahan untuk memperbaiki kinerja tim ini dimungkinkan terhadap seluruh anggota skuad Persib yang menurut penilaian tidak mampu memberikan kontribusi positif. Baik pemain maupun pelatih, terancam terdepak di putaran kedua nanti, jika kinerjanya tak kunjung mengangkat prestasi Persib. Untuk upaya perbaikan, konsorsium pemasok dana buat Persib pun konon sudah siap dengan anggaran tambahannya.
Tetap tenang
Jelas, ini sebuah warning buat pelatih, orang yang paling bertanggung jawab secara teknis atas prestasi pasukannya. Para pemain Persib pun dipaksa meningkatkan performanya agar tidak terdepak dari skuad klub yang tergolong "bergelimang" uang, dibandingkan kontestan LSI 2009/2010 lainnya ini.
Tekanan hebat buat tim bukan hanya datang dari manajemen klub dan konsorsium, tapi juga dari bobotoh dan publik sepak bola Bandung yang sudah merindukan mahkota juara bertengger di setiap kepala anggota skuad Persib. Maklum, sudah satu setengah dekade Persib tak pernah mengangkat trofi terhormat.
Tekanan hebat itu dipastikan menjadi beban berat buat seluruh anggota tim, utamanya pelatih. Apalagi, usai kekalahan menyesakkan 0-3 dari Persema Malang di Stadion Gajayana Malang, 23 Desember lalu, hampir setiap hari media massa, baik lokal maupun nasional, menyoroti kinerja pelatih dan sederet pemain Persib yang dinilai tampil tidak sesuai dengan harapan.
Buat yang merasakan, tekanan dan pemberitaan itu memang menyebalkan. Tapi, tak perlu menyikapinya secara emosional. Justru, tekanan dan kritik tajam itu harus dianggap sebagai sebuah "ejekan" agar bisa memacu adrenalin setiap anggota tim untuk mengangkat prestasi Persib di 23 laga tersisa.
Seperti kata Umuh, kegagalan harus menjadi pelajaran. Kritikan dan tekanan tidak harus membuat seluruh pasukannya panik, apalagi tegang. "Semua harus tetap tenang. Meski sangat berat, mahkota juara harus terus diperjuangkan hingga titik darah terakhir. Tekanan publik adalah cambuk untuk maju," kata Umuh, seolah ingin mendoktrin pasukan perang yang moral bertempurnya mulai menurun.
Umuh benar. Masih ada keajaiban yang bisa diharapkan Persib. Tapi ingat, keajaiban tidak akan pernah datang begitu saja. Tanpa usaha dan kerja keras untuk memperbaiki diri, keajaiban akan tetap bersemayam di peraduannya.
klik-galamedia.com
Currently have 0 comments: